DAYU

 



Di sebuah desa tinggalah seorang anak yang bernama dayu. Ia tinggal hanya bedua saja bersama ibunya. Ayahnya telah meninggal semenjak dayu berusia dua tahun Dayu dan ibunya tinggal di rumah tua yang hampir roboh.

Sekarang Dayu duduk di sekolah kelas kelas enam Sekolah Dasar. Meskipun Dayu anak orang yang tidak punya tetapi dia anak yang pintar selalu juara kelas.

Sayangnya dia sering di buly oleh teman-temannya. Ia juga di kucilkan oleh teman-teman di desanya. Terkadang Dayu merasa sedih dan bepikir kenapa aku diperlakukan seperti ini hanya karena aku miskin

Dayu tetap bersekolah. Ia berjuang untuk mencapai cita-citanya. Hingga akhirnya setelag dewasa dayu menjadi orang yang sukses. Ia kembali ke desanya dan dengan kekayaannya ia membantu penduduk desa yang saat itu sedang gagal panen.

Penduduk desa dan teman Dayu yang dulu membuly dan mengucilkannya kini merasa menyesal. Mereka meminta maaf kepada Dayu. Syukurlah dayu bukan anak pendendam. Ia memaafkan semua kesalahan teman-temannya. Kini dayu dan penduduk desa bersama-sama membangun desanya.

 

TAMAT

 

 

Cerpen : Muhammad Ikhsan Zikri

Ilustrasi : Muhammad Ikhsan Zikri menggunakan Bing Image Creator

Editor : D. Rakhmad Effendi. SE

Cerpen ini dibuat sebagai tugas literasi untuk kelas IX

 

 

TENTANG PENULIS

Ikhsan merupakan siswa di SMP Bina Utama Pontianak, saat ini ia sudah di kelas IX. Ia hoby bermain sepeda.

 


PENDAKI YANG SELAMAT DARI GUNUNG MELETUS

 



Rora adalah anak sebuah SMA Negeri di kotanya. Rora masih berumur 18 tahun, ia tinggal sendirian di sebuah kos-kosan, tetapi terkadang ada teman nya yang menginap di kos-kosan Rora. Ia juga harus berkerja untuk membiayai semua kebutuhannya.

Rora memiliki Sahabat dari kecil Yaitu Nishimura. Sama dengan Rora, Nishimura juga bersekolah di SMA yang sama. Nishimura berumur 19 tahun. lebih tua dari Rora. Ia tinggal di rumah Sendiri, karena Nishimura beda kota dengan orang tuanya.

Di pagi hari Rora bangun untuk pergi ke sekolah, sebelum berangkat ke sekolah Rora  mandi.

setelah mandi ia membuat sarapan terlebih dahulu. Jam sudah menunjukan pukul 06.14. Rora pun bergegas pergi kesekolah. Di sekolah Rora berjumpa dengan Qairen, temannya.

"Qairen!" teriak Rora.

Rora dan Qairen mengobrol sambil berjalan menuju kelas mereka. Sesampai nya di kelas mereka bertemu Dunk.

"Rora, Qairen” ucap Dunk. “Ada sesuatu yang ingin ku kata kan kepada kalian."

"Apa yang ingin kau kata kan?" tanya Qairen tak sabaran.

"Besok, kan,  libur nih. Kita ke gunung,yuk.” Jawab Dunk. “Kita camping di sana, kita bisa ngajak Joong dan Nishimura. Gimana?"

"Boleh, tuh, dari pada kita diam di rumah, kan?" balas Qairen.

Setelah semua setuju mereka menentukan jam mereka akan berkumpul.

Akhirnya sampailah esok hari. Mereka berkumpul dan langsung menuju lokasi dengan diantar mobil salah satu kenalan Dunk. Saat di perjalanan mereka tertawa bahagia. Perjalanan cukup jauh dari kota mereka sehingga harus 3 jam untuk sampai kesana

 Saat sampai mereka melihat gunung yang indah. Mereka naik ke puncak gunung dengan senang hati. Tak terasa malam pun tiba. Hari mulai gelap.

“Teman-teman, seperti nya kita istirahat dulu,” ucap Nishimura.

“Ya, lebih baik begitu agar kita punya tenaga untuk melanjutkan perjalanan nanti," timpal Joong.

Esok paginya mereka melanjutkan perjalanan kembali.

Mendadak gunung mulai begetar

"Teman-teman, aku merasakan getaran dari gunung ini," ucap Joong.

"Iya,” balas Rora. “Aku juga merasakan nya.”

Getaran itu semakin kuat. Mereka memutuskan untuk turun gunung secepatnya.

"Ayo, cepat kita turun dari gunung ini!" teriak Dunk dengan gemetar.

Mereka segera turun. Puncak gunung mulai berasap. Mereka semakin cepat untuk turun. Mendadak Dunk terjatuh. Ia tersandung batu. Untungnya Joong menarik tangan Dunk, membantunya berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan.

Akhirnya dengan memaksakan diri mereka semua berhasil turun. Satu hari setelah mereka sampai di rumah gunung itu pun meletus hebat. Mereka bersyukur sempat turun gunung sebelum akhirnya gunung itu meletus.

 

TAMAT

 

 

Cerpen : Nova Zhasmeka Aorora

Ilustrasi : Nova Zhasmeka Aorora menggunakan Meta.AI

Editor : D. Rakhmad Effendi. SE

Cerpen ini dibuat sebagai tugas literasi untuk kelas IX

 

 

TENTANG PENULIS

Nova bersekolah di SMP Bina Utama Pontianak. Hobi nge-dance dan menulis Cerpen


TIGA PENDAKI GUNUNG

 


Di sebuah desa kecil di kaki gunung, tinggalah tiga sahabat bernama Rina, Asep, dan Siti. Mereka memiliki impian untuk mendaki Gunung Agung, gunung tertinggi di daerah mereka. Ketiganya telah berlatih selama berbulan-bulan dan merencanakan perjalanan ini dengan penuh semangat. Mereka membawa peralatan lengkap, makanan, dan peta untuk memastikan keselamatan mereka selama pendakian.

Saat mereka mendaki, cuaca tiba-tiba berubah menjadi buruk. Hujan deras dan angin kencang membuat perjalanan mereka menjadi sulit. Rina, yang merasa takut dan cemas, ingin kembali turun. Tetapi  Asep dan Siti berusaha meyakinkannya untuk terus maju, karena mereka sudah berada di setengah perjalanan. Ketegangan meningkat ketika mereka kehilangan arah karena kabut tebal dan Rina mulai merasa cemas.

Setelah berdebat, mereka akhirnya setuju untuk berhenti sejenak dan merencanakan langkah selanjutnya. Mereka menggunakan peta dan kompas untuk menentukan arah yang benar. Siti, yang memiliki pengalaman mendaki sebelumnya, memimpin jalan. Dengan saling mendukung dan berkomunikasi, mereka berhasil menemukan jalur yang aman dan melanjutkan pendakian. Akhirnya, mereka mencapai puncak gunung Agung saat matahari terbenam, menyaksikan keindahan alam yang luar biasa. Pengalaman ini menguatkan persahabatan mereka dan mengajarkan pentingnya kerja sama dan saling percaya dalam menghadapi tantangan.

 

TAMAT

 

 

Cerpen : Riki Yolandari

Ilustrasi : Riki Yolandari menggunakan Meta.AI

Editor : D. Rakhmad Effendi. SE

Cerpen ini dibuat sebagai tugas literasi untuk kelas IX

 

 

TENTANG PENULIS

Riky Yolandari siswa SMP Bina Utama Pontianak yang baru berumur 16 tahun. Ia hoby bermain Futsal. Cerita ini dibuat untuk memenuhi tugas literasi.

 

 

 

TERDAMPAR DI PADANG GURUN

 



Pada suatu hari Joni, Toni, Doni, dan Dimas ingin travelling ke padang gurun, mereka berempat memang sudah sering melakukan travelling bersama. Sudah beberapa hari mereka melakukan perjalanan hingga akhirnya mereka sampai ke gurun yang di tuju. Sesampainya di sana mereka mengalami masalah, dimana kendaraan yang mereka gunakan mogok di tengah jalan. Oleh karena itu mau tidak mau mereka berempat harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Tentunya hal ini tidaklah mudah dikarenakan perjalanan mereka masih jauh. Setelah beberapa hari mereka melihat badai pasir yang sedang menuju ke arah mereka. Kejadian mengejutkan lainnya ternyata persediaan makanan dan minuman juga mulai menipis. Mengetahui hal ini Joni, Toni, Doni, dan Dimas mulai pasrah dengan keadaan mereka.

Mereka sudah tidak berdaya dan hanya bisa dengan keadaan. Tiba-tiba datanglah seorang pria dengan mobil Jeep menawarkan mereka berempat tumpangan. Pria tersebut juga mempunyai persediaan makanan dan minuman yang sangat banyak. Tanpa pikir panjang merek a segera masuk ke mobil penolong mereka.

Dengan perasaan lega pria itu membawa mereka berempat ke kota untuk melakukan pemeriksaan sebelum akhirnya kembali ke rumah.

 

TAMAT

 

 

Cerpen : Joseph Kognen

Ilustrasi : Joseph Kognen menggunakan Chat GPT

Editor : D. Rakhmad Effendi. SE

Cerpen ini dibuat sebagai tugas literasi untuk kelas IX

 

 

TENTANG PENULIS

Joseph Kognen murid kelas IX dari SMP BINA UTAMA Pontianak hobi bermain basket

 

 


TERJEBAK DI PERTAMBANGAN

 



Pada pagi hari yang berkabut, hiduplah dua orang petualang bernama Rifky dan Dio. Rifky memiliki tubuh yang tinggi, putih dan berambut lurus, mempunyai jiwa petualang yang tinggi. Lalu ada si Dio memiliki tubuh yang pendek, kulit berwarna kuning Langsat, serta rambut keriting. Si Rifky mempunyai campuran Indonesia Belanda, kalau Dio asli Indonesia.

Di saat pagi itu Rifky dan Dio sedang bersiap-siap untuk memulai perjalanan mencari harta karun. Ketika dalam perjalanan ke hutan Dio tidak sengaja menginjak lumpur hisap.

"Tolong aku Rifky!" teriak Dio.

Rifky pun datang dan menolong Dio dengan alat seadanya.

"Buruan cepat Rifky,” kata Dio dengan panik. “Bentar lagi aku kehisap."

"Sabar Dio jangan panik!" balas Rifky sambil mengeluarkan tali dan mengikatkannya pada sebuah ranting pohon.

Akhirnya Dio berhasil dikeluarkan dari lumpur hisap.

"Untung aku masih hidup," ucap Dio.

"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Rifky.

“Aku baik-baik saja,” jawab Dio. “Untung kamu menyelamatkan aku, Rifky,"

"Udah, gak papa. Yang penting kamu selamat," jawab Rifky sambil menepuk bahu Dio.

Sesudah kejadian itu mereka melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa lama menyusuri hutan mereka menemukan jejak misterius. Dengan hati-hati keduanya mengikuti jejak itu hinggga akhirnya mereka menemukan tambang yang mereka cari.

Dengan hati-hati keduanya memasuki tambang hingga semakin masuk ke dalam. Karena tambang itu sudah tua, tiba-tiba langit-langitnya runtuh sebagian. Melihat itu mereka berdua segera mundur.

Di luar tambang mereka berdua menemukan seorang penambang yang terjebak di reruntuhan batu. Keduanya segera membantu penambang itu.

“Namaku Sion,” ucap penambang itu setelah Rifky dan Dio berhasil menyelamatkannya. “Terima kasih kalian sudah menyelamatkanku.”

Rifky dan Dio bercerita kalau mereka sedang mencari harta karun.

“Kalian sudah menolongku,” ucap Sion. “Sebagai gantinya aku akan memberi tahu kalian tempat harta karun itu berada."

"Seharusnya kami yang berterima kasih kepadamu," balas Dio.

“Itu adalah hadiah karena sudah menolongku," jawab Sion.

"Terima kasih banyak," timpal Rifky.

Rifky beserta Dio melanjutkan perjalananya. Mereka berdua mengikuti petunjuk yang diberikan Sion. Benar saja, akhirnya mereka menemukan harta karun itu. Dua pemuda itu memanfaatkan harta karun yang mereka temukan untuk kehidupan mereka. Tidak lupa juga mereka gunakan untuk membangun desa dimana mereka tinggal. Sebagian harta karun juga diberikan kepada Sion yang sudah memberi petunjuk lokasi harta karun itu.

 

TAMAT

 

 

Cerpen : Felicia

Ilustrasi : Felicia menggunakan Meta.AI

Editor : D. Rakhmad Effendi. SE

Cerpen ini dibuat sebagai tugas literasi untuk kelas IX

 

 

TENTANG PENULIS

Felicia murid kelas IX dari SMP BINA UTAMA Pontianak hobi bermain sepeda


PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU SMP BINA UTAMA PONTIANAK TAHUN AJARAN 2026-2027

Halo, brother ! jumpa lagi setelah mimin cukup lama tidak menyapa. kini ada info baru tentang penerimaan siswa baru di SMP Bina Utama Pontia...